Infonews.web.id

EdShareOn: Eddy Wijaya & Prof. Dwikorita Karnawati – Menghadapi El Nino Ekstrem dan Ancaman Sesar Palu‑Koro

 


JAKARTA, 17 Juni 2026 – Melalui kanal diskusi EdShareOn, Eddy Wijaya kembali menghadirkan wawancara eksklusif yang sangat krusial bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kali ini, ia berbincang mendalam bersama Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika periode 2017–2025 serta kini menjabat sebagai Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada.

 

Pembahasan ini mengulas tuntas dua ancaman besar yang kini bersamaan membayangi negeri ini: fenomena cuaca ekstrem yang dikenal as El Nino Godzilla, serta potensi bahaya gempa dan tsunami dari keaktifan kembali Sesar Palu‑Koro. Berikut adalah rangkuman lengkap dan rinci dari isi diskusi tersebut.

 

Apa Itu El Nino Godzilla? Lebih Dahsyat dari Siklus Biasa

 

Eddy Wijaya membuka sesi dengan pertanyaan mendasar mengenai alasan di balik julukan unik tersebut. Menurut penjelasan Prof. Dwikorita, istilah itu dipakai para ahli untuk menggambarkan kekuatan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang terjadi jauh melampaui batas rata‑rata.

 

“Dampak El Nino biasa saja sudah sangat berat bagi kita, tapi kali ini skalanya jauh lebih besar, jangkauan lebih luas, dan diprediksi bertahan hingga awal tahun depan. Yang membuatnya semakin rumit, fenomena ini datang berbarengan dengan indeks Samudra Hindia positif. Gabungan keduanya menciptakan kondisi di mana kemarau di Indonesia akan jauh lebih panjang dan kering dari biasanya,” jelas Dwikorita.

 

Wilayah yang paling parah terdampak meliputi sebagian besar selatan dan barat Indonesia: Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sulawesi. Eddy kemudian menyoroti kaitan dengan situasi dunia saat ini.

 

“Kondisi alam ini terjadi saat politik dan ekonomi global belum stabil sepenuhnya. Meski ketegangan konflik mereda, dampak ekonomi masih terasa. Apakah ini menjadi beban ganda bagi ketahanan kita?” tanya Eddy.

 

“Tepat sekali,” jawab Dwikorita. “Kekeringan panjang berisiko memicu gagal panen massal, krisis air bersih, kebakaran hutan, hingga lonjakan harga pangan. Jika ini bertemu guncangan ekonomi luar, tekanan ke masyarakat akan sangat besar dan bisa mengganggu stabilitas negara.”

 

Langkah Strategis: Pertanian, Air, dan Kesehatan Menjadi Prioritas

 

Menjawab pertanyaan Eddy mengenai persiapan yang harus dilakukan, Dwikorita merinci sejumlah langkah mitigasi yang wajib segera dijalankan.

 

Pertama, sektor pertanian harus beradaptasi cepat. Petani disarankan mengubah pola tanam dan beralih ke jenis tanaman berumur pendek serta tahan kekeringan. Pemerintah wajib mendukung penyebaran bibit unggul dan teknologi irigasi hemat air agar produksi tetap aman.

 

Kedua, pengelolaan air dan rekayasa cuaca. Sebelum kemarau memuncak, BMKG bersama kementerian terkait akan memaksimalkan hujan buatan untuk mengisi waduk dan cadangan air tanah, terutama di wilayah Nusa Tenggara yang paling kering. Distribusi pompa air ke lahan pertanian juga menjadi prioritas.

 

Ketiga, kewaspadaan pangan dan kesehatan. Risiko terbesar adalah gangguan pasokan makanan yang bisa berdampak langsung pada program Makan Bergizi Gratis. “Anak‑anak dan lansia adalah kelompok paling rentan. Jika harga naik atau stok berkurang, asupan gizi mereka terancam. Selain itu, kasus penyakit seperti diare, gangguan pernapasan akibat debu, dan gizi buruk diprediksi meningkat tajam dalam enam bulan ke depan,” tegas Dwikorita.

 

Daerah pasca bencana seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh juga harus mendapat perhatian khusus, karena menghadapi kemarau saat pemulihan memerlukan persiapan sanitasi dan air yang ekstra.

 

Sesar Palu‑Koro: Bahaya Tersembunyi di Dasar Laut

 

Pembahasan beralih ke ancaman geologis. Eddy menyinggung gempa 7,7 Skala Richter di selatan Mindanao, Filipina, pada 8 Juni 2026 lalu yang sempat merusak wilayah perbatasan.

 

“Apakah gempa ini ada hubungannya dengan Sesar Palu‑Koro? Apakah ini sinyal bahaya bagi kita?” tanya Eddy.

 

Dwikorita menjelaskan bahwa meski jarak cukup jauh dan pengaruh langsungnya kecil, pemantauan tetap berjalan ketat. Beliau kemudian mengungkapkan temuan penelitian terbaru yang sangat penting.

 

“Kita baru paham struktur aslinya. Ternyata, Sesar Palu‑Koro itu tidak berhenti di daratan Sulawesi saja. Patahannya utuh, lurus, dan memanjang masuk jauh ke dasar Laut Sulawesi. Inilah sebab mengapa gempa 2018 lalu bisa memicu tsunami begitu dahsyat dan mematikan,” jelas Dwikorita.

 

Karena membelah dasar laut secara lurus dan panjang, pergerakan sedikit saja bisa menggeser massa air raksasa dan menimbulkan gelombang tinggi dalam waktu singkat. Risiko ini jauh lebih besar dibandingkan sesar darat biasa. Dwikorita mengingatkan masyarakat pesisir sekitar Teluk Palu untuk selalu paham jalur evakuasi dan tetap waspada.

 

Penutup: Kesiapan Adalah Kekuatan Utama

 

Di akhir diskusi, Eddy menutup dengan pertanyaan mendasar: “Apakah Indonesia sudah siap menghadapi dua tantangan besar ini sekaligus?”

 

Prof. Dwikorita menegaskan bahwa tantangan ini berat namun bukan tidak bisa dihadapi. “Kita tidak bisa mengubah alam, tapi kita bisa menyiapkan diri. Kerja sama pemerintah dalam kebijakan cepat dan tepat, serta kesadaran masyarakat beradaptasi, adalah kunci utama. Di tengah dunia yang belum menentu ini, kemandirian pangan, energi, dan kesiapan bencana adalah pondasi agar kita tetap berdiri tegak. Informasi ini kami sampaikan bukan untuk menakuti, melainkan agar kita semua bersiap dan meminimalkan dampak buruknya.”

 

Diskusi lengkap mengenai fenomena alam, geopolitik, dan kesiapan menghadapi tantangan ini dapat disimak selengkapnya dalam kanal YouTube EdShareOn di tautan berikut: https://youtu.be/rhwPFUSD9xg atau kunjungi situs resmi https://edshareon.com/.

 

Red




Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close